Minggu, 31 Juli 2011

Konspirasi BBM

keterangan gambar : puluhan trem-trem listrik yang dibiarkan membangkai begitu saja karena kejahatan konspirasi BBM.
Berbicara mengenai perbandingan energi yang diaplikasikan dengan jenis transportasi, terkadang sangat jarang kita temukan pembicaraan mengenai hal ini di forum manapun. Mungkin sebagian besar masyarakat sudah “pasrah” dengan ketergantungannya kepada bahan bakar minyak. Atau mungkin “dipaksa pasrah” oleh pihak-pihak tertentu.

Sang Terpilih (4)

keterangan gambar : sebuah poster film yang menggambarkan tentang salah satu organisasi rahasia, Skulls and Bones.
Akhirnya Subagyo mendapatkan ide untuk memperlihatkan loyalitasnya kepada “organisasi”, yakni dengan cara berpidatao dalam bahasa Inggris. Memang pasti banyak media dalam negeri akan menilai Subagyo kurang memiliki rasa nasionalis. Namun menurutnya inilah cara yang tidak akan mengundang kecurigaan berlebih kepada dirinya.
Namun bagi beberapa kalangan yang sangat mengerti bagaimana perjuangan mempersatukan Indungsia dengan media mempersatukan bahasa Indungsia sebagai bahasa resmi , hal yang dilakukan Subagyo tersebut seperti menyemprotkan dahak tepat di muka. Apalagi bagi keluarga-keluarga keturunan pejuang yang ikut serta dalam Sumpah Pemudi pada tahun 1928, tingkah Subagyo amat menyakitkan hati. Lagipula secara logika amat tidak bisa diterima, rakyat Indungsia yang memilih dia, mengapa pula Subagyo harus menggunakan bahasa Inggris saat berpidato menyambut kemenangannya.

Kamis, 28 Juli 2011

Sang Terpilih (3)

El Diablo Sign
Orang Yahudi memang memiliki sifat dasar angkuh dan sombong. Semua orang di dunia tahu hal itu, termasuk pemandu wisata di pegunungan himalaya maupun di taman margasatwa Serenggeti Tanzania, mereka mengenal angkuh dan somongnya nya Yahudi dari begitu pelitnya mereka memberi tip dan upah.
Jangankan kepada kita non-Yahudi yang mereka juluki goyim atau binatang ternak, keangkuhan dan kesombongan mereka juga berlaku kepada sesamanya, tak jarang mereka saling bersaing memamerkan kekayaan dan apa saja yang mereka miliki. Orang Yahudi Sephardin mengejek Yahudi Ashekanazi dengan julukan kike atau yiddish yang artinya Yahudi hitam. Sedangkan orang Ashkenazi memojokan Yahudi di bawahnya, Yahudi Falasha sebagai budak.

Terbuka Kedoknya, Pembantaian Norwegia Ulah Zionis

Jika terjadi suatu peristiwa teror besar, apalagi yang berskala internasional jangan pernah untuk berniat mencari berita di media-media massa yang besar, apalagi yang juga berskala internasional. Selalu bentuk dalam mindset anda agar senantiasa mencurigai Yahudi Israel di balik itu semua. Karena sesungguhnya merekalah tokoh “antagonis” utama di setiap zaman kehidupan manusia.
Carilah berita atau informasi di media-media massa independen, bukan media yang dimiliki oleh seorang anggota golongan/partai tertentu. Atau justru cari di media massa milik Yahudi yang berskala hanya untuk konsumsi orang Yahudi, karena biasanya kemungkinan besar akan ditemukan fakta yang cenderung menjurus kepada kebenaran. Termasuk dalam persitiwa teror di Norwegia yang terjadi beberapa hari lalu. Termasuk dalam menulis berita ini, saya dapatkan data dari blognya Philip Marlowe, incogman.net. Dari sana bisa ditemukan pelaku dan motif pembantaian di Norwegia.

Selasa, 26 Juli 2011

Sang Terpilih (2)

Saat pesta mulai menginjak tengah malam, para tamu undangan baik pria dan wanita ramai-ramai meninggalkan ruangan pesta untuk beranjak pulang. Namun tiba-tiba munculah dua sosok wanita muda yang cantik nan seksi disertai balutan pakaian minim di depan Subagyo. Salah satu diantaranya membawa sebuah kunci mobil. Lalu kunci tersebut diserahkan kepada Subagyo, dia pun menyadari bahwa itu adalah kunci mobil sport Ferrari seri terbaru di masa itu.
Kontan Subagyo dilanda kebingungan tiada tara. Dalam kelinglungan itu sang senator pemilik rumah mengatakan bahwa mobil itu bolah dibawa kemanapun dan kapanpun oleh Subagyo, dan tentu saja termasuk kedua wanita seksi tersebut. Dilema melanda hati dan pikiran Subagyo, dia harus memilih antara membawa “buah-buah segar dan ranum” itu atau menolaknya begitu saja mengingat latar belakang dan kultur yang membesarkannya di lingkungan agama yang taat. Belum habis Subagyo memikirkan hal tersebut, teman kuliahnya, putra sang Senator menarik Subagyo keluar rumah menuju Ferrari dan kemudian mereka berempat meluncur membelah suasana malam kota New York.